[CERPEN ISC] KAU YANG SEMPURNA…
Pagi saat udara
Bandung masih terasa dingin, aku sudah bersiap untuk pergi ke kampus. Hari ini
adalah hari penentuan ku, Sidang kelulusan ku. Perasaan ku saat ini sangat
bergejolak, ada sedikit perasaan tidak nyaman, tapi aku mencoba melupakannya
“Hari ini Aku harus
sukses…” aku membatin dalam hati.
Aku pun berjalan
keluar rumah kos ku, dan sebelum menutup pintu gerbang, aku pun menengok
kembali ke arah rumah kos yang telah aku huni 4 tahun belakangan ini, sebuah
rumah sederhana dengan pemilik kos yang ramah dan penuh pengertian saat aku
telat membayar kos…
Ya aku, Arman, anak
seorang supir pribadi di kota Serang Banten yang telah mengecewakan Abi dan Umi
dengan tidak lolos masuk Perguruan Tinggi Negeri, yang arena kebaikan Bossnya
Abi, Aku di biayai untuk melanjutkan
pendidikan ku di sebuah Perguruan Tinggi Swasta di kota Paris Van Java.
TEETTT… hampir aku
melompat mendengar suara klakson sebuah sepeda motor MIO yang hampir menabrak
ku. Si pengemudi hanya tertawa renyah…
“Woy… pagi – pagi
jangan ngelamun… pikirin tuh sidang…” teriaknya sambil tertawa
Tahu bahwa
pengemudinya adalah Joan, gadis tomboy nan manis blasteran Jawa-jerman, anak
pengusaha terkenal di jakarta, aku hanya dapat menyeringai.
“eh Joan,… udah siap sidang…?”
aku membalas teriakannya sambil mendekatinya.
“udah dong… nih… di
dalam ransel…” jawabnya sambil tersenyum.
“Gile… penuh amat tuh
ransel… mau langsung naik gunung lagi nih…” aku melirik Ransel besar di sadel
belakang.
Joan mengangguk
semangat, “yuk bareng ke kampus…” ajaknya “sekalian pegangin ransel gue ya…”
lanjutnya sambil tersenyum lebar.
“udah tahu… kebiasaan
loe…” gerutu ku sambil duduk di belakang sambil memangku ransel raksasa
nya. Senyum Joan berubah menjadi tertawa
besar, dan motor pun melaju ke kampus tercinta.
Keakraban Joan dan Aku
sudah berlangsung lama, sejak masa OSPEK, dimana kami berdua sama – sama
dihukum oleh para senior “sadis” hanya karena tidak membawa uang 25 rupiah
kecil yang nudzubilah nggak ngerti nyarinya dimana. Dan semenjak itu kami
menjadi akrab bahkan kami selalu bersama dalam pengisian KRS, memilih mata
kuliah dan kelas yang sama, hanya dalam pemilihan kegiatan kemahasiswaan kita
berbeda...
Sebetulnya rekan –
rekan banyak yang bingung bagaimana bisa aku dan Joan bisa bersahabatan,
ibaratnya seperti Langit dan Bumi. Karakter kami berbeda jauh.
Aku, Arman, lebih tipe
anak manis, nongkrong di Perpustakaan, membaca novel, koran atau apapun yang
bisa di baca :) mungkin bisa dibilang aku tipe mahasiswa kupu – kupu alias
kuliah pulang – kuliah pulang.
Berorganisasipun aku
lebih mencari yang tenang seperti kelompok diskusi, Team Catur yah pokoknya yang nggak aneh –
aneh.
Sedangkan Joan, jauh
bertolak belakang, si gadis tomboy ini lebih ekspresif, senang tantangan bahkan
organisasi nya pun dia ikut pencinta alam dan sangat aktif pula.
Tapi entah kenapa,
kita bisa berteman dan bahkan bersahabat, mungkin justru karena perbedaan itu
maka kita jadi saling mengisi… entahlah…
Mungkin karena
perbedaan karakter yang sangat jelas itu tidak ada satu temanpun menganggap
kita pacaran dan memang kita tidak pacaran.
Sebenarnya pernah
terbesit di hati ku untuk menyatakan cinta ke Joan… tapi melihat perbedaan
status sosial yang sangat-sangat berjarak, aku membuang jauh – jauh perasaan itu,
toh belum tentu juga Joan akan menerimaku dan malah nanti merusak persahabatan
yang telah ada, jadi… lupain aja deh…
Kami bercanda
Sepanjang perjalanan menuju kampus dan sepertinya Joan sangat – sangat ceria
hari ini.
Akhirnya kita tiba di
kampus, suasana masih lumayan sepi, ditempat parkir motor baru ada beberapa
motor mahasiswa dan karyawan.
“eh Joan… loe sidang
jam ke berapa…?’ tanyaku sambil membuka helm.
“hhmm, jam berapa ya…?
Wah lupa tuh…” jawab Joan enteng
Aku langsung
menatapnya tajam sambil melotot.”masa sih jadwal penting begitu dilupakan…”
pikirku.
“hehehe… becanda Man,
jam 10.00 di ruang 211, dosen penguji nya pak Denny sama Bu Julia…, puas…
tenang Arman sayang, gue hapal kok…
hehehe…” katanya sambil menonjok pelan pundak ku.
Wuih… lega juga
ternyata dia tidak main – main seperti selama ini, pernah dia datang kekampus
langsung dari gunung Gede tanpa bawa apapun dan parahnya terus dia nanya “Man,
sekarang ada kuliah apa ya…?” khan parah banget tuh…
“kalau loe Man?”
tanyanya balik.
“gue duluan pertama jam 9.00 di ruang Audio visual…” jawab ku
sambil melihat kedalam tas ku, melihat persiapan presentasi skripsi ku lengkap
atau tidak.
“Arman… nanti tungguin
Joan ya, jangan pulang duluan…” Joan berkata hampir berbisik di dekat ku.
Kaget juga mendengar
gaya bicaranya berubah drastis dari biasanya pakai loe – gue…. Tapi itulah Joan
pikir ku berubah – rubah sesukanya dia..
Aku mengangguk sambil
mengangkat kepala dan menatap nya, ternyata Joan sedang menatap tajam kepada ku
dengan mimik muka serius.
“ok deh Joan, gue
duluan ya, nyiapin LCD nya dulu…, nanti gue tunggu di kantin…” aku melangkah meninggalkan nya menuju gedung
perkuliahan.
Joan menangkap lenganku,
seperti melarang ku untuk meninggalkannya, tapi kemudian segera melepasnya
kembali “Sukses ya Man… doain gue juga ya…”
Aku melambaikan tangan
sambil berlari kecil, aku terlalu sibuk dengan urusan sidang ini jadi tidak
terlalu mengambil hati kejadian tadi.
----
Es kelapa muda pesanan
ku akhir datang juga, presentasi sidang skripsi ku cukup lumayan a lot Prof.
Juwana dan Doktor Ilham bener – bener menekanku sampai habis, untung Dosen
pembimbing ku berbaik hati untuk tidak ikut menekan ku.
Saat ini selesai tugas
ku… perfecto tanpa revisi, tidak percuma aku bekerja keras menyusun bab per bab
skripsi ku sejak 6 bulan yang lalu.
Jam 11.15 aku melirik
jam tangan ku, Joan belum kelihatan juga…
“apa kabar nya dia…”
pikirku.
“apa memang sidangnya
lama, atau dia lupa janjian dengan aku dan selesai sidang langsung ke “markas”
MAPALA ya…?”
Sambil menyeruput es
kelapa mudaku, aku mencoba menghubungi Joan, terbesit sedikit ke khawatiran dia
masih dalam ruang sidang dan akan mengganggu dia dan akhirnya ngambek, wah…
kalau dia ngambek cape nenanginnya…
Kuangkat HP ku dan
terdengar suara wanita …
“maaf pulsa anda tidak
mencukupi untuk melakukan panggilan…” cielah udah tekor to pulsa ku…
Akhirnya aku
memutuskan untuk menunggunya di kantin sedikit lebih lama… toh aku juga akan
tetap di kampus menunggu pengumuman resmi hasil sidang jam 15.00 sore ini.
Akhirnya dari kejauhan
terlihat juga sosok tinggi semampai proporsionalnya nya Joan lengkap dengan
ransel raksasanya… rupanya belum ke Markas MAPALA dia.
Aku melambaikan tangan
memanggilnya dan Joan begitu melihat aku langsung berlari kearah ku. Ngeri juga
melihat dia lari sempoyongan dengan beban besar dipunggungnya. Aku berdiri dan
siap berlari jika saja tiba- tiba Joan terjatuh…
Alhamdulillah, Joan
selamat sampai ke meja ku. Tanpa ba bi bu dia langsung meminum es kelapa muda
ku hingga tandas… ya Tuhan padahal aku aja pelan – pelan minumnya…
Setelah meletakkan
Ransel raksasanya di kursi sebelah dia duduk berhadapan dengan ku, dan tersenyum lebar sambil menatap
ku…
Aku kembali duduk dan
memandang dia dan gelas es kelapa mudaku secara bergantian tanda protesku atas
tindakan nya meminum habis tanpa permisi…
Senyumnya langsung
berubah menjadi tertawa besar… “Sorry Man… cape nih…” alasannya pada ku…
“iya nggak pha – pha,
tapi ya minta izin dulu dong, langsung tandas lagi…” gerutuku bercanda.
“bagaimana tadi
sidangnya, sukses khan…”lanjutku sambil memanggil kembali penjual es kelapa
muda.
“pesen 2 lagi ya
mang…” teriakku sambil mengacungkan 2 jari ku, si mamang es kelapa muda
mengangguk mengerti.
“iya… tadi itu bu
Julia yang rada reseh, nyerocos terus,
sampe pak Denny mau nanya nggak jadi mulu, dendam kali dia ama gue ya…?”
kicau Joan menceritakan kejadian di dalam ruang sidang.
“la iya lah, inget
nggak mata kuliah bu Julia khan yang loe dapet F, sampai akhirnya loe mesti
ngambil semester pendek..?”jawab ku.
“oh iya… hehehe… lupa
gue Man…” Joan menyeringai lebar.
“iya gara – gara mesti
bantuin loe belajar, gue batal pulang kampung…” lanjutku
“hehehe… sorry Man,
thanks ya my love…” Joan menjawab sambil tertawa lebar…
Si mamang es kelapa
muda datang dan meletakan 2 gelas es kelapa muda yang langsung diambil oleh
Joan.
Akhirnya kita berdua
terdiam, aku asyik mengaduk – aduk minuman ku sambil mengamati putaran kelapa
muda berputar – putar aku aduk – aduk.
Dari sudut mataku
kulihat Joan terus menatap ku tajam dan dengan muka sendu.
Aku mengangkat kepala
ku dan ikut menatapnya…
“Kenapa Joan…, beres
khan tadi sidangnya…?” aku menatap Joan khawatir.
Joan hanya tersenyum.
Tiba – tiba Bobby sang
ketua MAPALA, muncul ..
“Joan… ayo anak – anak
udah siap, kita ngejar Sunrise nih di Gede…”
Aku melihat Joan,
sepertinya bahasa tubuh Joan menunjukan rasa tidak nyaman di tegur seperti itu
oleh Bobby.
“ya udah duluan deh,
gue masih ngobrol nih sama Arman…” jawab Joan yang terdengar sedikit ketus
“oke, gue tunggu di
markas ya…, sorry ya Man… jangan lama – lama ya Joan, anak – anak udah nggak
sabar nih…” Bobby menjawab sambil berjalan keluar kantin.
“udah mau jalan…? Ya
udah jalan gih, nanti di musuhin anak – anak MAPALA lho…” kata ku menanggapi Bobby.
“Arman… menurut loe,
gue pergi nggak ya…?” tanya Joan dengan muka sendu…
“Habis ini khan kita
udah susah ketemu…” lanjutnya lagi
“ya… terserah loe lah…
apa hak gue ngelarang loe pergi, pacar juga bukan apalagi suami hehehe…” jawabku
sambil terkekeh – kekeh…
“oh gitu ya, jadi
menurut loe gue pergi aja nih…?” sepertinya Joan tidak puas dengan jawabanku
yang dinilai nya tidak serius.
“lho khan udah siap
tuh…” aku menjawab sambil memberikan isyarat
dengan daguku kearah ransel raksasanya.
Joan melirik
Ranselnya.
“JOAN…JOAN … ayooo,
kita kejar Sunrise nih…” tedengar suara riuh anak –anak MApala dari atas Truk.
Joan melihat kearah
mereka, dan kembali menatapku tajam.
“bagaimana Arman… Joan
pergi nggak ya…?” suaranya terdengar lirih
“ya udah jalan sana…
nanti gue liatin hasil loe deh… have fun ya…” aku tersenyum kepada nya
Joan berdiri dan
mengangkat ranselnya, dia tersenyum manis kepada ku, dan melangkah meninggalkan
ku…
“sebetulnya aku ingin
kamu nggak pergi Joan…” aku membatin dalam hati melihat Joan berjalan keluar
mendatangi truk yang mengangkut para mahasiswa MAPALA yang siap mengantarkan
mereka ke Gunung Gede.
----
Malam harinya ditempat
kos ku, aku sibuk membaca koran, mencari lowongan kerja, bandung terasa lebih
dingin dari biasanya, hujan menyiram kota kembang cukup lumayan besar membuat
malas untuk bergerak dari tempat ku duduk.
TOK..TOK..TOK.. tiba –
tiba terdengar suara ketukan dipintu, reflek aku melihat jam dinding waktu
menunjukan pukul 10 malam. Ku melihat ruangan sekelilingku, tidak orang rupanya
semua sudah pada tidut…
“siapa sih malam –
malam gini bertamu…?” aku sedikit menggerutu karena harus meninggalkan tempat
duduk ku
“mana udah PW banget
lagi…a hh…” aku berjalan kearah pintu dan membuka pintu.
Di balik pintu aku
melihat Joan, berdiri dengan tubuh basah, aku langsung mengabil lengannya dan
mengajak nya masuk
“Man di teras aja,
Joan nggak lama – lama masih ditungguin temen – temen…” Joan menolak masuk dan
berjalan ke tempat duduk di teras.
“ya udah, gue ambil
handuk sama Teh Manis panas… biar loe nggak masuk angin…” aku langsung masuk kedalam. Sekilas ku lihat
tadinya Joan mau melarangku tapi aku sudah masuk kedalam.
Dengan cepat aku
keluar dengan membawa handuk dan the manis panas dan meletakkannya di meja .
“Arman… bagaimana
nilai sidang Joan…?” tanyanya saat aku menghempaskan badan ke kursi di
depannya.
“sip sist…, dapet B+
loe, by the way kok bisa nongol disini, malem – malem lagi…?”jawabku sambil
mencoba mencari tahu.
“sist…” terdengar
desis halus keluar dari mulut Joan.mukanya pucat, mungkin karena udara dingin
Gunung Gede ditambah kehujanan di Bandung ini.
“eh nggak pha – pha
kok, Joan Cuma mau kasih liat surat ini ke Arman…” katanya sambil memperlihatkan
sebuah amplop berwarna biru. Aku melihatnya dengan penuh tanda tanya…
“surat apaan nih… aku ambil sekarang ya…”
“jangan…!!!, jangan
sekarang…!!!” tangannya Joan jangan menyentuh tangan ku untuk melarangku mengambil
surat itu.
“besok ya Arman
Sayang, jam 2 siang…” Joan tersenyum, walaupun dalam keadaan pucat senyum tetap
manis.
“lho… kenapa mesti jam
2 siang Joan…?” aku bingung atas syarat nya itu.
“Arman – Arman, pokoknya
nanti jam 2 siang aja suratnya ya…
janji…” Joan sekali tersenyum manis
“iya deh, ditunggu loh
jam 2 siang…” jawab ku sambil menunjukan raut muka cemberut seperti anak kecil.
“nah begitu dong
sayang…” Joan tersenyum lebar…
“Man… Joan langsung
balik ya… anak – anak masih nunggu Joan di Gede…” Joan berkata sambil berdiri
dan mulai berjalan ke tepi teras.
“HAH… malem – malem
begini balik ke Gede… besok aja lah?” aku hampir berteriak
Joan hanya tersenyum
dan berbalik lari keluar di bawah guyuran hujan yang semakin besar
“Hati – hati ya Joan…”
aku hanya dapat bergumam menatap punggung Joan yang tak lama kemudian hilang di
kegelapan malam…
Aku masuk dan mengunci
pintu kulihat jam dinding menunjukan pukul 11.30 malam.
Tiba – tiba aku
menjadi sangat mengantuk, aku memutuskan untuk masuk kamar dan menarik selimut
dan tiba – tiba teringat .. “oh iya handuk sama gelas masih diluar…, ah sudah
lah besok pagi saja aku beresin…”
Dan tidak lama
kemudian aku terlelap tidur…
----
DOK..DOK..DOK… kamrku
di gedor orang aku terbangun kaget.
“SIAPA…!!!” teriakku
dari atas tempat tidur.
“Dono… ada yang nyari
loe diluar…” terdengar sahutan dari luar.
Aku keluar kamar dan
kulihat Dono berdiri di depan pintu
“Noh.. ada tamu di
depan…” katanya sambil menunjuk kepintu depan.
Di depan aku melihat
Bobby dan Andy anak – anak MAPALA, mereka berdiri di teras sambil mengobrol.
Terlihat raut muka lelah… sangat kelelahan…
“Hai Bro… ada apa
nih…” tanyaku sambil mengajak duduk di kursi teras, kulihat handuk dan teh
manis yang semalam aku buat untuk Joan, rupanya Joan tidak meminum sedikitpun
dan handuknya pun masih kering.
“Man… tabah ya Man…Joan kecelakaan…” Andi merangkul ku.
“HAH… kapan… sekarang
Joan dimana?” ini pasti waktu dia malam- malam balik ke Gede pikir ku.
“semalem jam
delapanan…, dia masih di atas” lanjut Bobby sambil tertunduk.
Aku terhenyak ketempat
duduk. Andi bersimpuh disamping kursiku
“nggak mungkin… jangan
becanda loe nggak lucu tau..!!!”
“semalem jam 10 an
Joan mampir kesini, tuh bekas minum nya masih ada…” kataku keras merasa
dipermainkan anak – anak MAPALA didepan ku.
Bobby dan Andy saling
bertatapan bingung mendengar omongan ku
“tapi bener Man, jam 8
an kita nggak becanda… jasadnya masih diatas, anak – anak yang lain lagi
evakuasi ke bawah…” Bobby mencoba menjelaskan…
“jasad…, jadi Joan…”
aku terpekik mendengar kata kata Bobby…
“iya Man, Joan nggak
sempet tertolong… maaf , ini salah gue…” tutur Andi sambil menangis
Aku sudah tidak dapat
berkata – kata, pandangan ku kosong … Joan… Joan sudah…
“jadi, waktu itu di
pos 2 Joan sudah bilang kita balik aja karena kabut mulai turun, tapi Andi
memaksa terus bahkan mengejek Joan pengecut, anak – anak yang lain mendukung
Andi dengan harapan dapat melihat sunrise di puncak gede” Bobby mencoba
menjelaskan kejadiannya.
Aku tetap terdiam,
kulihat Andi semakin menunduk menahan tangisnya
“terus Man, ditengah
perjalanan, entah kenapa, ada pohon besar di samping yang tiba – tiba roboh
hampir kena Andi tapi rupanya andi didorong oleh Joan… tapi jadi nya pohonnya
nimpa Joan…”
Lanjut Bobby sambil
melihat Andi.
“Man gue nyesel, gue
salah… ampunin gue man…” Andi tersenguk – senguk terpekur dilantai.
Aku hanya bisa menepuk
nepuk pundak Andi yang duduk terpekur menunduk disamping kursi ku… aku tetap
diam…
“Joan… meninggal di
tempat…?” tanya ku lirih lebih mirip mendesis
“nggak Man, kita
berhasil evakuasi dia kembali ke Pos 2, kita berharap bisa langsung turun, tapi
kondisi Joan sangat parah, dia… luka dalam…”
“di pos 2 dia sempet
minta amplop terus nggak tahu dia kaya ngerobek Buku Hariannya ya Ndi..?, terus
dia minta untuk diserahin ke loe Man setelah itu … Joan…, makanya kita disini,
buat menjalankan amanat terakhir Joan…” Bobby terus mencoba menceritakan
kejadian di Gunung gede.
“jam berapa Joan…” aku
melirik tajam Bobby…
“sekitar jam 10 an
Man, gue ngenes banget Man… Joan tersenyum, dia seperti tidur…” terlihat bayang
– bayang air mata mulai nampak di mata Bobby…
Jam 10… Joan hadir di
depan ku…
“oh ya Man, sebelum
lupa… ini amplop yang Joan minta disampaiin ke loe…” Bobby menyerahkan sebuah
Amplop… AMPLOP BIRU persis seperti yang diserahkan Joan malam itu.
Secara reflek aku
melihat jam tangan ku… pukul 2 siang…
Persis seperti
permintaan Joan tepat pukul 2 siang…
“Man, gue sama Andi
balik dulu ya kita balik ke Gede, bantu evakuasi Joan…” Bobby berdiri dan
mendekati Andi dan memapahnya jalan keluar.
Aku hanya terdiam tidak
menjawab, sambil memegang amplop biru pesan terkahir Joan untuk ku…
----
Siang itu, di sebuah
kompleks pemakaman mewah di daerah cikarang, ketika semua orang sudah mulai
kembali ke area istirahat, aku masih terpekur di depan sebuah nisan.
JUANITA SCHMIDT
tertulis nama di nisan
itu, sebuah nama yang selama 4 tahun terakhir mengisi hari – hari ku.
Aku mengambil sebuah
amplop biru dari kantong ku dan membacanya. Entah semenjak kejadian itu sudah
berapa kali aku membacanya.
Isi amplop itu berisi
sobekan dairy Joan, yang paling terakhir dia tulis…
Bandung,
Hari terakhir Joan
sibuk kuliah… hari ini sidang… woow, Joan akhirnya jadi sarjana Boo… bebas
merdeka…
Tapi kok, ada perasaan
sedih ya… oh iya… Joan mesti pisah dengan Arman…
Hmm… Arman… Joan sebenernya
pengen jadi pacar kamu lho… Joan sudah jatuh hati sama kamu semenjak OSPEK
dulu, tapi kok kamu nggak pernah bilang sih ke Joan…
Ya udah, pokoknya hari
ini… selesai sidang… Joan mau ngomong sama Arman bahwa… Joan Sayang ama Arman
dan Joan cinta Arman…
Kwkwkw.. nggak
kebayang muka nya Arman deh..
---
Yah lupa… udah janji
sama anak – anak MAPALA selesai sidang mau naik Gede… bodo ah… pokoknya Joan
harus ngomong sama Arman titik.
---
Ya kok Arman gitu ya…
Joan pengen deh dilarang pergi naek Gede…, Joan pengen kita rayain keberhasilan
sidang kita berdua… Dinner gitu loh…
Ah ya udah, nanti
turun gede Joan mau langsung culik Arman, ajak ke lembang kita Dinnerdi sana…
sip.. deh…
Aku terpekur dalam
membaca surat itu tak terasa air mata ku
jatuh dan aku pun berbisik diatas pusara…
“Joan… kau begitu
sempurna di mata ku… aku mencintai mu…”
Terbesit di hati dan
otak ku, lagu kita berdua saat di hukum senior dimana aku dan Joan disuruh
menyanyi duet
Kau begitu sempurnaDi mataku kau begitu indah
Kau membuat diriku
Akan selalu memujamu
*courtesy of LirikLaguIndonesia.Net
Di setiap langkahku
Ku kan selalu memikirkan dirimu
Tak bisa ku bayangkan
Hidupku tanpa cintamu
* janganlah kau tinggalkan diriku
Takkan mampu menghadapi semua
Hanya bersamamu ku akan bisa
Reff:
Kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku
Lengkapi diriku
Oh sayangku kau begitu
Sempurna, sempurna
Kau genggam tanganku
Saat diriku lemah dan terjatuh
Kau bisikkan kata
Dan hapus semua sesalku
Sempurna by Andra
& The Backbone
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar